
Jika ada seseorang diluar sana yang masih ragu bahwa Amerika adalah sebuah tempat yang memungkinkan segala sesuatu terjadi, Jika ada yang masih bertanya-tanya apakah mimpi para pendiri bangsa ini masih bisa menjadi nyata di masa sekarang dan jika ada yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi, maka malam ini jawabannya
Victory speech Barack Hussein Obama seolah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa segalanya masih bisa terjadi di Amerika. Obama menjadi orang Afro-America pertama yang berhasil menjadi penghuni White House, padahal beberapa puluh tahun lalu orang-orang Afro (Negro) masih mengalami diskriminasi oleh orang white skin. Kemenangan Obama menunjukkan bahwa rakyat Amerika tidaklah buta akan warna kulit, etnis dll yang notabene masih kuat di negeri kita. Obama berhasil menjual ide “Change” kepada rakyatnya yang sudah jenuh akan pemerintahan Bush dan Republik yang sangat konservatif.
Kemenganan Obama menginspirasi hampir setiap orang yang mengikuti perkembangan Pilpres Amerika. Semoga saja inspirasi ini juga sampai di negeri kita. Negeri yang menurut saya masih kuat dipengaruhi budaya romantisme khususnya dalam berpolitik. Siapa dan bagaimana kemampuan seseorang sering dikalahkan oleh factor kedekatan suku, agama, gender ataupun komunitas. Ujung-ujungnya pilihan berdasarkan kedekatan bukan kepada kecakapan. Entahlah sampai kapan faktor ini bisa berubah menjadi tidak dominan, mungkin saja menunggu rakyat kita melek politik yang berarti meningkatnya SDM, Kesehjateraan dan Kesehatannnya. Bukti nyatanya, beberapa hari yang lalu saya mendengarkan statement salah seorang (mungkin) tim sukses Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam Pilpres RI nantinya, bahwa Sultan lebih layak jadi Presiden daripada JK, karena Sultan adalah suku Jawa dan titisan Raja sementara JK bukan Jawa, karena sangat sulit menjadi Presiden jika bukan suku Jawa. Dalam hal ini saya bukannya mendukung JK, menurut saya statement ini jelas sangat menyakiti perasaan suku bangsa lain yang ada di negeri ini. Rakyat seolah masih dibutakan oleh faktor-faktor romantisme kedekatan tertentu bukan pada personal capability dalam memimpin. Memang tidak dapat dipungkiri 70% penduduk negeri ini dari suku Jawa, namun bukan berarti Negara ini menjadi monopoli suku Jawa. Hal-hal seperti inilah yang membuat rakyat kita tidak berkembang dalam berpolitik juga membuat kita sebagai bangsa Indonesia mudah rapuh dalam persatuan. Apalagi para cendikiawan kita justru terkadang mengeksploitasi permasalahan ini dalam mengusung kepentingan politiknya.
